Liburan ma anak anak

Minggu, 18 Juli 2010

Blog EntryTersihir Serial Drama KoreaMar 3, '08 10:14 PM
for everyone

Cowok suka nonton drama Korea itu suatu aib bukan? Hahahahaha, tentu tidak!!! *mirip iklan ya.

Aku emang demen banget sama drama korea, tidak semuanya sih, tapi beberapa yang ceritanya keren bahkan tak jarang dapat menguras air di bak mandi, eeeitss… menguras air mata maksudnya, aku rela-relain buat nonton.

Yang pasti, nonton drama bikinan negeri gingseng itu jauh berlipat menyenangkan ketimbang nonton sinetron. Wadaawww… jauuuuuhhh banget. Baik itu dari segi kualitas cerita hingga akting para pemainnya.

Para sineas Korea selalu serius kalo bikin serial drama. Sepertinya segala aspek dipikirkan dengan matang. Dan kalau ternyata serial mereka sukses, nggak lantas ceritanya di panjang-panjangin. Paling banter mereka bikin session lanjutannya. Jadi nggak jadi seperti sinetron dalam negeri yang kalo ratingnya bagus, pasti episodenya diperpanjang, dan berarti ceritanya makin parah. Uhuk…uhukk…

Terakhir aku nonton Para Pencari Tuhan-nya Om Deddy Mizwar. Wajar kalo sinetron ini menjadi salah satu yang berating tinggi, karena katanya persiapan bikin sinetron ini aja butuh waktu tiga tahun. Jadi bener-bener terkonsep.

Setelah itu paling hanya nonton OB, itu juga nggak selalu ditungguin, soalnya sekarang kadar kelucuannya rada memudar.

Neeh, berberapa judul serial bikinan korea yang aku tonton, berikut pandangan singkat aku mengenai serial tersebut. Berberapa emang bikinan Taiwan, tapi itu nggak banyak. Dan oh ya, semuanya aku tonton di Indosiar. Postingan aku kali ini sekalian sebagai saran, coz kini Indosiar udah jarang muterin drama korea. *lagi sibuk di acara nyanyi-nyanyian sih. :o

Oh ya, drama Korea emang bermodal, berberapa serial malah sampe syuting ke luar negeri.


Full House * * * * *
Sampe kapanpun nggak bakalan lupa sama serial yang satu ini. Ceritanya mantap, aktingnya keren. Duet Rain dan Song Hye Kyo (Bener nggak nih nulisnya?) memang T.O.P! apalagi disini Song Hye Kyo berperan jadi penulis. Full House juga sempat syuting di Cina.

Sissy Girl Chun Hyang * * *
Lucu! Emang rata-rata film bikinan
Korea itu lucu-lucu!

Sad Love Song * * * * *
Cerita gadis buta dan cinta sejatinya. Mengharunkan eeeuy…. Syuting serial ini malah sampe ke Amerika.

Beautiful Life * * * *
Kisah married by accident, dan memperlihatkan betapa susahnya menjadi orang tua di usia muda, apalagi ketika akhirnya nyawa sang anak terancam.

Sorry I Love You * * * * *
Favoritnya mbak Rini neh kalo gak salah. Emang ceritanya luar biasa menyentuh. Mengenai dua anak yang terpisah dari ibu kandung mereka. Ironisnya, ibu kandung mereka malah mengadopsi anak orang lain. Syuting juga sempat di lakukan di Australia.

Jewel In The Palace * * * * *
Jang Geum, si koki istana dalam perjalanannya menjadi dokter pertama (yang melakukan pembedahan ) di
Korea. Luaaaaar biaaassaaaa… mungkin sampe satu abad ke depan Indonesia bakalan belum sanggup bikin drama histori seperti ini.

Oh! Feel Young * * * *
Kisah seseorang pemuda biasa yang ternyata merupakan pewaris kekayaan seorang konglemerat. Kisah yang unik dan lucu, melihat metamorfosis tokoh yang sudah terbiasa hidup semaunya hingga segala sesuatunya di atur.

Sunshine Love * * * * *
Song Hye Kyo lagi-lagi bermain apik. Kini menjadi seseorang yang harus membesarkan adiknya seorang diri. Orang tuanya dibunuh, yang ironis pembunuh tersebut adalah ayah dari pemuda yang di cintainya.

Kabut Cinta * * * * *
Salah satu drama
taiwan yang keren, berhubungan dengan sejarah juga. Yang main Vicky Chao, kisah ini sendiri di angkat dari novel karangan Chiung Yao (kebetulan novelnya punya euy! Hihihihi)

Romance The White House * * * *
Ada Agnes Monica! Bangga juga euy sebagai orang Indonesia, walau Agnes tampil sekilas dan jadi cewek penghianat. Salah satu serial Taiwan yang lumayan.

Beauty and the Best * * * * *
Aku rindu pingin nonton serial ini sekali lagi. Tentang kehidupan wartawati yang keukeuh mencari kebenaran berita, walaupun pada akhirnya demi mengungkapkan kebenaran, ia harus merelakan ayahnya di penjara.

Memories Of Bali * * * *
Jujur aku nggak terlalu menyimaki serial ini dari awal hingga akhir, alias terpotong-potong. Yang main adalah “Si Mata ngantuk”, hehehe itu julukan aku pribadi, namanya aku lupa. Dia juga main di Sorry I Love You. Lagi-lagi bangga dengan
Indonesia, Bali gituuu!

18 Vs 29 * * * *
Aku suka drama ini, terlebih dengan pemeran wanitanya. Dia yang di serial Oh! Feel Young menjadi seorang, hmmm… sekretaris yang ketat. Di film ini, aktingnya sebagai wanita berusia dewasa (29 Th) tapi lupa ingatan sehingga mengganggap dirinya berusia muda (18 th) lumayan keren!

Princess Lulu * * * *
Aduh jujur aku lupa ceritanya, tapi paling nggak, aku pernah suka dengan serial ini. Pemeran utama wanita juga main di serial yang judulnya kalo nggak salah Love in
Paris. (yang nggak sempat aku nggak tonton)

Rosy Life * * * * *
Aku aja nontonnya sampe berkaca-kaca. Benar-benar kisah seorang ibu yang luar biasa. Seluruh isi serial film ini, penuh dengan intrik perselingkuhan.

Princess Hour * * * *
Kisah kehidupan istana kerajaan
Korea, Cuma yang disorot adalah kehidupan pangeran mudanya. Tetap saja ada intrik perebutan kekuasaan. Lumayan lucu.

A Love To Kill * * * *
Rain yang main di Full House jadi pembunuh bayaran di film ini (kalo nggak salah, rada-rada lupa sih) karakternya beda sekali di Full House. Di sini Rain selalu bertampang dingin.

1 Litre Of Tears * * * *
Bener nggak ya nulis judulnya? Hehehe, kisahnya lumayan bagus sampe-sampe di jiplak.

Mr GoodBye * * * *
Ini film yang pemainnya sempat ke
Indonesia itu kan? * rada lupa, Cuma ada di catatan handphone, oh ya Judul-judul di atas juga atas catatan di handphone. Aku suka film ini, dan surprise melihat endingnya, karena ternyata serial ini masih berhubungan dengan serial Sissy Girl.

Satu lagi film yang aku suka yang aku kasih bintang lima, namun aku lupa judulnya adalah satu film taiwan yang menceritakan tentang seorang anak yang mencari kebenaran atas kematian ibunya di rumah sakit. Yang ketika selesai di kremasi ternyata dalam tubuh ibunya terdapat pisau bedah. Aku suka serial ini!

Oh ya, btw serial asing yang kebanyakan drama Korea, bukan karena aku pilih kasih, hehehe, tapi nyatanya drama korea emang aku suka. Aku pernah nyoba nonton serial F4, tapi nggak pernah tahan nonton lebih dari 10 menit, tahu deh kenapa, hahahahaha…

Jumat, 09 Juli 2010

Daftar 10 Pianist terbaik sepanjang masa
di 14:55 Diposkan oleh Agus Mulyadi
Jika sebelumnya Serba Sepuluh telah menerbitkan artikel tentang sepuluh komponis terbaik, maka kali ini Serba sepuluh menerbitkan artikel yang bertemakan tentang Piano, Yaitu daftar 10 pianist terbaik.

Sejak piano ditemukan 500 tahun lalu, hingga sekarang sudah banyak sekali pianist-pianist handal yang bisa memainkan tuts-tuts piano dengan nada dan Irama yang Khas, Dan dari semua daftar pianist yang dapat dihimpun, Ternyata terselip 10 nama yang dinobatkan sebagai 10 pianist terbaik sepanjang masa oleh para ahli musik dunia,


Berikut adalah daftar 10 pianist terbaik sepanjang masa

10. Alfred Cortot.
Spoiler for alfred cortot:
maaf gambarannya kecil abis gak ada yang lain

Terkenal karena rekaman menakjubkan dan variasi dari orang-orang seperti Chopin, Brahms, Liszt, dan banyak lainnya komposer terkenal. Ia juga menambahkan variasi sendiri dan berputar untuk yang paling umum komposisi, mengubahnya menjadi sesuatu yang unik dan istimewa.

9. Arturo Benedetti Michelangeli
Spoiler for arturo benedetti michelangeli:

Pianis yang lebih baru, Michelangeli mengasah bakatnya untuk kesempurnaan, menghasilkan rekaman yang nyaris sempurna bahkan ketika belum diedit. Dia terkenal untuk membatalkan konser secara acak dan untuk fokus pada detail kecil dari musik, sering melupakan gambaran besar.

8. Walter Wilhelm Gieseking
Spoiler for walter wilhelm:

Gieseking adalah unik karena ia diduga pernah berlatih piano. Sebaliknya, ia akan duduk berjam-jam dalam diam, memutar lagu dalam pikirannya. Kebanyakan otodidak, pianis kemudian akan melakukan potongan tanpa cacat.

7.Franz Liszt
Spoiler for franz liszt:

seseorang asal Hungaria ini memulai karirnya di usia yang cukup muda, meskipun sedikit informasi yang tersedia selama periode hidupnya. Diketahui bahwa tidak hanya dia seorang pianis yang sangat baik, ia juga bisa memainkan beberapa alat musik lain, termasuk cello.

6. Wolfgang Amadeus Mozart
Spoiler for wolfgang ama deus mozart:
yang ini kesukaan ane gan

Salah satu anak yang paling terkenal genius, Mozart memainkan piano pada umur tiga dan lima, ia sudah mulai menulis lagu-lagu yang ditulis oleh ayah setia. Dia melanjutkan untuk memberikan konser dari usia yang sangat muda.

5. Fredric Chopin.
Spoiler for fredic chopin:

Chopin adalah salah satu dari komponis pertama piano muda siswa bermain. Ia juga seorang anak ajaib, sering dibandingkan dengan Mozart. Mendalami dunia musik dari usia muda, dia sudah bermain dan mencoba menulis pada usia enam tahun.

4. Vladimir Horowitz
Spoiler for vladmir horowitz:
versi tuanyaversi mudanya

Mungkin salah satu pianis yang paling terkenal dari abad ke-20, Horowitz belajar di bawah Felix Blumenfeld dan Sergei Tarnowsky. Ia terkenal karena kemampuannya untuk bermain secara kreatif potongan-potongan yang kuat dan bukan sekadar menggedor jauhnya di kunci.

3. Ludwig Van Beethoven
Spoiler for bethoven:
seseorang yang berasal dari Jerman muda ini komposer dan pianis terkenal karena bakat pada piano dan fakta bahwa ia terus bermain baik dan menenangkan setelah kehilangan pendengaran pada usia 26.

2. Josef Hoffman
Spoiler for joseph hoffman:

Ajaib muda ini mulai tampil konser piano di usia enam tahun dan pada usia 12, ia adalah yang pertama tercatat musisi, bekerja sama dengan Thomas Edison untuk membuat rekaman musik pertama.

1. Sergei Rachmaninoff
Spoiler for sergei rachmaninoff:
Dikenal memiliki tangan terbesar dari semua pianis yang paling terkenal, Rachmaninoff span mampu hingga 14 catatan pada satu waktu dan dia memanfaatkan kemampuan ini dalam komposisi, Rhapsody pada Tema Paganini, 8 Prelude, dan lain-lain.

Rabu, 23 Juni 2010

Natal Putih Impian

Epoch Times Minggu, 20 Desember 2009

alt

Musim Salju di Kota Munich, Jerman. (AFP/GETTY IMAGES)

Terkadang ketika angin dingin dari Pegunungan Victorian Alps yang diselimuti salju berhembus dingin hingga menusuk tulang, terbesit ingatan saya akan Kota Munich saat Hari Natal. Serpihan salju yang jatuh dengan lembut, musik dan gelak tawa, makanan lezat, sinar lampu dan tempat tidur yang hangat dan nyaman.

Munich merupakan kota penting yang mengagumkan, rumah-rumah flat berhimpitan dengan bangunan perkantoran moderen, bangunan berarsitektur klasik, museum-museum kelas dunia dan taman-taman yang indah.

Ada banyak hal yang dapat dilakukan dan dinikmati di Kota Munich, akan tetapi ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan yakni berkunjung ke salah satu museum bir yang terkenal di dunia. Semua orang pasti mengenal bir buatan Bavaria yang sangat istimewa. Terbuat dari resep tradisional yang sangat kuno, tidak mengandung bahan-bahan kimia. Kata orang inilah yang menyebabkan orang tidak bakal merasa sakit kepala akibat mabuk pada keesokan harinya.

Marienplatz adalah sebuah lapangan yang terletak di jantung kota, di sini juga terdapat stasiun utama kereta api (Hauptbahnhof) juga kereta api bawah tanah. Naik kereta dari sini dapat menghubungkan kota-kota utama di Jerman. Marienplatz merupakan tempat interaksi sosial penduduk kota, juga tempat dimana Balai Kota Baru yang bergaya Neo Gothic (Neues Rathaus) berada. Disana setiap hari pukul 11.00 terdapat atraksi turis dua tarian boneka Glockenspiel.

Hal lain yang "harus dilakukan" di Munich adalah ice skating. Gratis dan latihan yang sangat menyenangkan.

Pada tahun ini ketika sebagian Sungai Isar membeku, penduduk lokal ramai-ramai bermain ice skating disana. Para ibu muda juga bermain skating sambil mendorong kereta bayi mereka dan asyik bercakap-cakap dengan yang lainnya. Sebagian dari lapangan es itu diberi pita pembatas untuk arena bermain hockey es, sebuah olahraga musim dingin yang sangat populer.

alt

Bagi penggemar ski, direkomendasikan lereng Gunung Zugspitze di Alpen Bavaria. Zugspitze terletak 2960 meter di atas permukaan laut dan merupakan puncak tertinggi di Jerman, dan sekitar 40 km dari Munich. Kami pergi kesana pada salah satu akhir pekan dan setelah memastikan situasinya tepat, salju yang tebal, tidak ada angin dan sinar matahari yang terang.

Pada perayaan tahun baru yang lalu, sebelum tengah malam tiba, kami menaiki bukit yang tertutup salju tebal untuk mencari titik pandang yang tepat kearah Danau Tegensee. Memanggul ransel masing-masing yang penuh dengan kembang api, gelas dan beberapa botol sampanye. Ketika bunyi lonceng tengah malam bergema, danau itu dilingkari dengan lampu-lampu kecil, sekelompok kecil orang mulai menyalakan kembang api mereka.....Tahun baru tiba dengan dipenuhi harapan akan permulaan yang baru.

Mobil-mobil keluaran Mercedes dan BMW ada dimana-mana, sepertinya saya tidak melihat sebuah mobil tua pun. Mereka semuanya terlihat baru, tapi kebanyakan kotor. Ketika salju mulai mencair, terdapat banyak lumpur di jalanan.

Pemerintah Jerman memiliki peraturan yang ketat tentang pencemaran lingkungan, jadi Anda tidak diperbolehkan mencuci mobil Anda dijalan, tetapi harus di tempat pencucian mobil. Selama musim dingin, setiap rumah tangga harus menyingkirkan salju yang ada di pintu depan rumahnya, sekaligus juga bagian jalanan, inilah yang menyebabkan seluruh akses tetap terbuka bagi daerah pinggiran kota.

Gema zaman Nazi masih membayangi Kota Munich. Kamp konsentrasi Nazi pertama berada di Dachau, luar kota Munich. Sekarang telah menjadi situs sejarah dan sebuah pelajaran bagi dunia. Dibuka untuk tempat tahanan politik pada 1933 dan pada 1937 digunakan sebagai kamp kerja paksa dan tempat penyiksaan. Hitler menggunakannya sebagai sebuah tempat percontohan bagi 3.000 kamp konsentrasi lainnya dilokasi yang berbeda. Tempat ini juga digunakan sebagai tempat pelatihan perwira SS.

Era Baru News >> Wisata >> Pariwisata >> Permata Budaya Lorraine , Perancis
Permata Budaya Lorraine , Perancis

Epoch Times Jumat, 01 Januari 2010

alt

Taman kota di depan stasiun kereta penumpang Metz Ville. (FLICKR)

Metz adalah ibukota Lorraine, sebuah kota yang sangat menarik. Terletak di pertemuan Sungai Moselle dan Seille. Sungai-sungai ini bercabang ke berbagai hulu sungai dan dilintasi oleh banyak jembatan. Kota ini memiliki banyak gereja, rumah abad pertengahan dan bangunan bersejarah lainnya. Baik itu kerangka kerja arsitektur maupun area luas untuk pejalan kaki, air dan tanaman berjejer yang mengelilingi kota tua tersebut sangat menyenangkan untuk dilihat.

Place Stanislas, yang biasanya dikenal dengan Place Stan’, merupakan alun-alun besar khusus untuk pejalan kaki yang terletak di Nancy, Lorraine, Prancis. Sejak 1983, Place Stanislas, Place de la Carriere dan Place d’Alliance, ditetapkan sebagai kawasan arsitektur klasik yang masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO.

"Metz aux campagnes magnifiques, Riviere aux on-des prolifiques, Coteaux boises, vignes de feu, Cathedrale tout en volute."

Sebuah kutipan yang memuji keindahan Metz disadur dari L’Ode de Metz, 1892 karya penyair lokal terkenal, Paul Verlaine.

Memang nyata terlihat, saya menemukan Metz adalah sebuah kesatuan arsitektur klasik, dari distrik kota tua di abad pertengahan berpadu dengan sisa peninggalan Roma yang mempesona, hingga kota distrik Kekaisaran yang elegan dan gaya arsitektur ala Jerman.

alt

Suasana di dalam stasiun kereta penumpang Metz Ville

Berlokasi di daerah Lorraine, bagian timur laut Prancis, Metz terletak di antara pertemuan Sungai Moselle dan sungai Seille. Saat menaiki Le Petit Train (atau kereta api mini) yang melintasi jantung Metz dan beberapa monumen bersejarah, saya berdecak kagum menyaksikan stasiun kereta api yang megah, tampilan depan museum Cour d’Or yang diapit lukisan-lukisan dinding terpahat, dan permata kota yang bersejarah, gereja katedral St Etiennel. Katedral bernuansa Gothic ini terkenal dengan hiasan jendela kaca yang luas berhiaskan ornamen abad tiga belas hingga dua puluh, sebagian besar adalah rancangan Marc Chagall.

Kemeriahan suasana seni kontemporer Metz seperti penggabungan pekan raya Art Metz dan program seni Nut2Blanche akan terasa lebih hidup dengan dibukanya Centre Pompidou-Metz pada 2010 mendatang. Hal ini merupakan bagian dari fase pertama yang menggabungkan France’s National Museum of Modern Art (Museum Nasional Seni Modern Prancis), Centre Pompidou - Paris, beserta fitur-fitur lain yang koleksinya akan dipamerkan di Metz untuk menghidupkan kembali nuansa sejarah seni sejak 1905.

Sementara itu, saya dapat menyaksikan jajaran Constellation (beragam seni kontemporer program realisasi kota) saat melintasi berbagai situs warisan dan budaya, seperti patung monokrom raksasa bersejarah Anish Kapoor kontras dengan interior sejarah Gereja Trinitaires yang juga diikutsertakan dalam pameran.

"Tables de Rabelais" adalah simbol untuk mencicipi santap malam di Metz yang dianggap sebagai ciri khas hidangan dan produk lokal yang otentik. Saya menikmati sebuah pesta makan dan minum yang mewah ala mirabelle, dari minuman brendi yang telah di saring hingga kue tart mirabelle dan daging ayam khas mirabelle dimasak dengan saus Mirabelle di restoran antik Rabelais.

Sebuah penemuan yang nyata dan mengejutkan adalah bahwa puding kering Lorraine ternyata benar-benar berasal dari daerah Lorraine, ditemukan pada 1956 di kota Nancy.

Sebuah pemandangan menakjubkan adalah ketika menyaksikan Metz di malam hari saat konstruksi bebatuan Jaumont kuning menjadi hidup di bawah sorotan tigabelas ribu cahaya lampu, membuat arsitektur monumen tampak bercahaya. Dari tepi Sungai Moselle, Neuf Temple (kuil Neuf) tampak seperti istana dongeng sementara katedral St. Etienne bersinar di malam hari bagaikan lentera Dewa.

Setengah jam perjalanan kereta api membawa Anda ke ibukota Lorraine, Nancy. Berbeda dengan Metz, Nancy memiliki alun-alun megah dan elegan dengan konstruksi berwarna emas dan putih yang dibangun pada abad kedelapan belas dalam gaya klasik Prancis dipadu hiasan barok. Place Stanislas, Place de la Carriere dan Place d’Aliansi telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia UNESCO, yang mempresentasikan kawasan perkotaan yang menarik di jantung kota.

alt

Nuansa bangunan bergaya klasik di depan alun-alun Stanislas pada malam hari. (FLICKR)

Nancy memainkan peran besar dalam gerakan Art Nouveau Eropa pada akhir abad kesembilan belas, sehingga didirikanlah sekolah seni Nancy School of Art Nouveau. Museum L’Ecole de Nancy seringkali menampilkan karya-karya seniman lokal dari sekolah ini. Semua artis yang ikut serta dalam kebangkitan kembali budaya Art for All ini mengekspresikan kemahiran teknis dan inspirasi alam dalam media seni dekoratif.

Salah satu fitur yang dipajang di l’Ecole de Nancy adalah karya Emille Galle, dengan sebuah ruangan di museum dipenuhi dengan barang antik dan keramik ukiran untuk mengabadikan namanya. Antoine Daum adalah salah satu seniman lain yang mengubah kaca menjadi bentuk seni yang indah. Kaca kristal-Nya, atau pate de verre, adalah koleksi yang terus direproduksi oleh Industri manufaktur Daum, dipajang di Fine Arts Museum of Nancy (Museum Seni Rupa Nancy).

Arsitektur yang terinspirasi gaya Art Nouveau naturalis ini secara unik tampak jelas pada tampilan sisi depan kafe-kafe, bank, apotik dan rumah-rumah mewah di seluruh Nancy. Termasuk juga karya besar l’Ecole de Nancy, Villa Majorelle dengan konstruksi besi tempaan karya Louis Majorelle, kaca patri oleh Jacques Gurber dan dekorasi berarsitektur keramik oleh Alexandre Bigot, menjadikan Art Nouveau pusat seni untuk dihargai dan dinikmati oleh semua orang.

Jasleen Kandhari adalah seorang sejarawan seni yang gemar berpetualang dan menjelajahi cakrawala budaya. Dia telah menerbitkan berbagai ulasan perjalanan dan pameran di Eropa, Amerika Utara dan Asia.
Winter Sonata Pulau Nami

Ye Qiumei Senin, 11 Januari 2010

Winter Sonata

Winter Sonata

“Welcome in Naminara Republic”, begitulah kata sambutan saat menjejakkan kaki di Pulau Nami yang terletak di Chuncheon-si, Provinsi Gwangwon-do, Korsel. Dari Seoul, pulau mungil ini bisa ditempuh selama 1,5 jam sampai tiba di Dermaga Gapyeong. Perjalanan lalu disambung dengan kapal feri, menyeberangi Sungai Han selama 10 menit. Kapal ferinya sangat unik, dihiasi bendera-bendera negara di dunia yang berkibar-kibar aneka warna, cocok dengan slogannya, “Di Naminara (Republik Negara Nami), kita semua bersaudara.” Memang mulai dari loket pembelian tiket yang bertuliskan “Imigrasi” hingga sistem pulau ini yang bagai sebuah negara, yang dengan hangat menerima semua budaya dan wisatawan dari seluruh penjuru dunia.
Makam Jendral Nami

Makam Jendral Nami

Nama Pulau Nami diambil dari Jenderal Nami, pahlawan muda Korea pemberani yang telah menjadi jendral di usia 25 tahun. Makam Jendral Nami terletak di Pulau Nami, lengkap dengan kisah heroiknya. Namun kepopuleran Pulau Nami dimulai sejak drama “Winter Sonata” yang dibintangi Kang Jun-sang (Bae Yong-jun) dan Jung Yu-jin (Choi Ji-woo), menggunakan Pulau Nami sebagai lokasi syuting. Drama ini meledak di berbagai negara asia, terutama Jepang, China, Thailand dan Indonesia.

Walaupun drama ini diproduksi tahun 2002 dan sudah tidak tayang lagi di televisi, namun kepopulerannya mengantarkan Nami menjadi salah satu tujuan wisata di Korea Selatan yang paling ramai, berkat kepiawaian pemerintah Korsel yang menggarap industri pariwisata. Kunjungan turis di Nami dulu hanya berkisar 200.000 per tahun. Sejak demam Winter Sonata hingga kini, kunjungan wisata di Nami melonjak 1,6 juta per tahun, 200.000 orang di antaranya turis mancanegara. Pihak pengelola juga mempertahankan minat turis dengan rajin menyelenggarakan berbagai pergelaran seni di Nami.

Musim Gugur di Pulau Nami,  bagaikan lukisan hidup

Musim Gugur di Pulau Nami, bagaikan lukisan hidup

Kala musim gugur datang, pulau ini memang sungguh romantis. Daun-daun di pepohonan yang berbaris lurus beralih warna menjadi kuning, coklat, dan merah, benar-benar bagaikan sebuah lukisan. Di berbagai sudut pulau ini dihiasi foto-foto berisi beragam adegan dalam sinetron itu. Bahkan, dipasang juga patung Bae Yong-jun atau Choi Ji-woo, yang menjadi lokasi motret para turis yang narsis.

Di jalan-jalan terdapat air mancur buatan dan deretan pohon-pohon cantik yang ditanam berdasarkan temanya. Ada “Jalan Cemara” yang indah di musim dingin, “Jalan Gingko” yang indah di musim gugur, dan “Jalan Sakura” yang indah di musim semi. Ada juga “Jalan Metasequoia” yang sering dijadikan lokasi foto oleh para turis yang datang. Tidak heran jika banyak pasangan yang sedah jatuh cinta datang kemari.

Satu lokasi terkenal, yaitu jalan panjang berpasir di tepi danau yang dinaungi pohon-pohon birch. Di situlah adegan pasangan Jun-sang mengendarai sepeda sambil memboncengkan Yu-jin, yang merentangkan kedua tangannya sembari memejamkan mata menikmati momen.

Salah satu ciri pulau seluas 460-ribu meter persegi dan diameter 5 kilometer ini adalah karya seninya. Mulai dari patung hingga arsitekturnya terbuat dari barang-barang bekas yang didaur-ulang, sesuai dengan moto pulau ini, yaitu “Budaya, Alam, dan Pemeliharaan Lingkungan Hidup.” Disini juga terdapat beberapa ruang pameran seperti “Anjungan Musik,” “Studio Seni Kerajinan Tangan,” dan “Loka Karya Daur Ulang,” dimana para turis dapat menikmati berbagai pengalaman seperti mendengarkan musik di live café, membuat karya seni dari barang bekas dan sebagainya.

Sudut-sudut cantik Pulau Nami

Sudut-sudut cantik Pulau Nami

Walaupun pulau ini sebenarnya dapat ditelusuri dalam dua jam saja, dibutuhkan waktu lebih dari satu hari untuk menikmati satu per satu keindahan pulau ini dimulai dari pemandangan kabut pagi di permukaan danau hingga cahaya bulan yang cantik di malam hari. Karena itu untuk memaksimalkan pengalaman Namiseom, di pulau ini juga disediakan fasilitas transportasi seperti mobil tur elektrik, sepeda keluarga roda empat, kereta mini, dll. Jadi bila anda berkesempatan mengunjungi Korsel, jangan lupa singgah di pulau nan romantis, Pulau Nami.

Era Baru News >> Wisata >> Pariwisata >> Nepal Rolwaling Trek, Perjalanan ke Lembah Terpencil
Nepal Rolwaling Trek, Perjalanan ke Lembah Terpencil

Oleh: Tjahjadi Nurtantio Minggu, 07 Februari 2010

Nepal

Pemandangan dari Pass Tashi Laptsa (5755 m) saat matahari terbenam (Photo:Tjahjadi Nurtantio)

Bicara tentang hiking atau trekking, kita pasti akan teringat pada Himalaya sebagai sesuatu yang superlatif. Dan bicara tentang Himalaya kita akan teringat pada Mount Everest. Karena mayoritas turis yang datang untuk hiking/trekking di Nepal ingin melihat puncak gunung tertinggi di dunia itu, atau melihat puncak lain berketinggian di atas 8000 m seperti Annapurna, Cho Oyu. Pemikiran demikian juga kami amati di kalangan pendaki gunung yang cenderung mengukur "aktivitas herois" mereka dengan ketinggian gunung yang didaki.

Awal tahun 90-an saat melintasi jalur trek musim dingin di Khumbu (kawasan Everest), penulis pertama kali berkesempatan melihat pegunungan Rolwaling dari kejauhan. Rolwaling merupakan lembah suci tempat meditasi Padmasambhava (penyebar agama Buddha Tantra ke Tibet). Lembah itu memiliki kuil tua yang telah berdiri tegar sejak 120 tahun, penuh legenda terkait dengan makhluk misterius ‚Yeti.‘ Warga desanya sangat ramah, alamnya asri dengan puncak-puncak bersalju yang spektakuler. Sungguh perjalanan yang menyenangkan kembali ke alam dan kesahajaan.

Nepal

Jembatan gantung khas Nepal (Photo:Tjahjadi Nurtantio)

Pada 2008, Penulis Mendapat Kesempatan Pertama Menjelajah Rolwaling Valley

Awal perjalanan kami adalah desa kecil Dolakha, di mana jalan bagi kendaraan bermotor berakhir. Dari sini kami berjalan menelusuri Tamba Kosi (Sungai) menuju utara, dengan pemandangan puncak salju Gauri Shankar (7146 m) yang memukau. Setelah 3 hari kami berbelok ke arah timur memasuki lembah Sungai Rolwaling yang sebenarnya.

Menurut penduduk setempat Rolwaling adalah "beyul" atau lembah tersembunyi dan suci, di mana Guru Rinpoche / Padmasambhava bermeditasi sebelum dia meneruskan perjalanan ke Tibet untuk menyebarkan agama Buddha Tantra. Karena kesuciannya, di lembah ini dilarang memburu atau membunuh makhluk hidup. Hal ini adalah faktor penting mengapa lembah ini tetap terjaga keasliannya. Di sini kita akan ditemani oleh hewan liar seperti berbagai jenis monyet, rusa dan burung. Demikian pula vegetasinya sangat majemuk karena trek ini melewati beberapa zona vegetasi. Bermula dari zona tropis sampai subtropis dengan sawah, ladang sayuran dan kentang diselingi hutan lebat. Sementara di daerah pass / glacier kita tidak akan dapat menemukan flora sama sekali.

lembah_terpencil-(8)

Pemandangan Puncak Gauri Shankar (7146 m) (Photo:Tjahjadi Nurtantio)

Di sepanjang lembah ini banyak monumen alam yang dihubungkan dengan Padmasambhava. Puncak tertinggi di Rolwaling adalah Gauri Shankar yang dianggap suci oleh pemeluk agama Buddha Tantra dan Hindu. Di sini juga ada danau suci tempat ziarah setiap tahunnya.

Penduduk Rolwaling kebanyakan terdiri dari suku Sherpa yang berasal dari Tibet. Kebanyakan dari mereka adalah petani dan penggembala. Semua dengan fasilitas sangat sederhana. Listrik hanya ada di rumah-rumah yang memiliki solar panel. Karena teradaptasi sempurna dengan iklim pegunungan, banyak Sherpa Rolwaling bekerja sebagai "climbing guide".

Nepal

Truck stop àla Nepal Himalaya, semua barang dipikul oleh manusia. (Photo: Tjahjadi Nurtantio)


Nepal

Zona Subtropis sepanjang sungai Tamba Kosi. (Photo: Tjahjadi Nurtantio)


Nepal

Zona Sub-Alpin dengan Puncak Gunung Chekigo (6257 m) (Photo:Tjahjadi Nurtantio)

Desa terbesar adalah Beding (di ketinggian sekitar 3600 m), disinilah letak gompa / kuil terbesar di Rolwaling. Sedangkan desa (dan kuil) tertua adalah Na, sekaligus merupakan desa paling timur dan terakhir sebelum menjelajah glacier dan Pass Tashi Laptsa menuju Khumbu. Sekarang Na (dengan ketinggian 4200 m) hanya dihuni oleh penggembala selama musim panas. Setelah Na, teman perjalanan kami hanyalah burung elang, bebatuan, es dan angin.

Orang Barat pertama yang menapakkan kakinya di Rolwaling adalah Sir Edmund Hillary yang datang dari Khumbu lewat Tashi Laptsa Pass. Setahun kemudian Eric Shipton menjadi terkenal dengan penemuan makhluk "Yeti" di Menlung La, pass yg merupakan jalan penghubung langsung menuju Tibet.

Berbeda sekali dengan Region Everest atau Annapurna yg dikunjungi ribuan turis tiap tahunnya. Rolwaling dapat dikatakan jarang bertemu dengan pengunjung asing. Karena itu reaksi penduduk setempat terhadap pengunjung pun berbeda. Di sini bukan hanya kebudayaan dan pemandangan yang menjadi atraksi bagi pengunjung. Kami pun menjadi atraksi bagi penduduk setempat, terutama anak-anak. Tidak mengherankan kalau pengunjung selalu ditemani segerombol anak-anak yang mengikutinya sampai batas desa.

Di sini terasa sekali keaslian dan keramahan penduduk Himalaya yang belum terjamah (atau belum dirusak) oleh turisme massal.

Nepal

Kawan seperjalanan. (Photo: Tjahjadi Nurtantio)


Nepal

Berfoto dengan perempuan-perempuan setempat. (Photo: Tjahjadi Nurtantio)


nepal

Puncak Tsoboje (6689 m) pada malam hari. (Photo: Tjahjadi Nurtantio)

Jika di Khumbu region kadang kita dapat melihat "souvenir shop" di depan biara, di Rolwaling - Lama (kepala biara) setempat akan melakukan puja bersama kami dan memberi berkah untuk perjalanan selanjutnya. Berkah ini memang diperlukan. Sewaktu menjelajah glacier (sungai es) - penulis sempat melewati satu jasad Sherpa di jalur perjalanan, hanya ditutupi terpal dan bendera-bendera mantera. Korban altitude sickness atau kelelahan. Menurut cerita mayat itu "baru" berada di sana sejak 1 bulan. Suatu peringatan untuk lebih berhati-hati. Ini tempat yang benar-benar jauh dari peradaban dan bantuan apa pun.

Nepal

Menjelajahi Yalung Glacier menuju Puncak Yalung Ri (5630 m). (Photo: Tjahjadi Nurtantio)


nepal

Pemandangan dari „Summit Ridge“ Yalung Ri, beberapa meter di bawah puncak. (Photo: Tjahjadi Nurtantio)


Nepal

Menuju Pass Tashi Laptsa, setelah mendaki „serac“ / tebing es terjal di tepi Drolambo Glacier. (Photo: Tjahjadi Nurtantio)

Bagi para pecinta gunung, Rolwaling menawarkan banyak puncak-puncak yang tidak begitu dikenal. Memang kebanyakan lebih rendah dari puncak-puncak tertinggi di Khumbu, tetapi sesungguhnya pemandangannya tidak kalah spektakuler dan medannya pun tidak lebih mudah didaki. Beberapa tahun terakhir di Rolwaling dibuka rute-rute pendakian ekstrem oleh para pendaki yang mencari tantangan baru - bukan lagi ketinggian puncak melainkan kesulitan dinding yang menjadi kriteria, contohnya, rute Tengkangpoche North Face (ketinggian 6500m) pada tahun 2008.

Nepal

Menjelajahi Drolambo Glacier (Photo: Tjahjadi Nurtantio)


Nepal

Camp peristirahatan kami (5700 m) di Pass Tashi Laptsa, di latar belakang Khumbu Himal (Photo: Tjahjadi Nurtantio)

Setelah kurang lebih dua setengah minggu tidak bertemu dengan orang asing lainnya, kami mencapai Khumbu, dan ini bagai memasuki dunia lain. Tiba-tiba kami kembali dikelilingi turis / trekkers, penginapan, restoran, listrik, dan televisi... Kami merasa sedikit asing setelah demikian waktu di kesunyian dan alam yang asri.

Rolwaling Merupakan Salah Satu Daerah yang Paling Mengesankan di Nepal

Info perjalanan:

Gerbang masuk adalah Kathmandu, ibu kota Nepal. Penerbangan antara lain melalui Bangkok, Delhi dan Singapura.

Trekking di Rolwaling membutuhkan persiapan matang baik fisik maupun logistik, pengetahuan teknik mendaki gunung dengan rope, crampons, ice axe, pengetahuan pertolongan pertama dan lain-lain. Di kalangan pendaki gunung di Eropa telah dibedakan antara „climbing“ dan „trekking“. Rolwaling Trek masuk kategori „trekking“, tetapi tetap harus berhati-hati karena kondisi khusus seperti glacier, ketinggian di atas 5000 m (kadar oksigen rendah) dan faktor lainnya.

Nepal

„Gipfelfreude“, penulis / fotografer bersama pendamping, di latar belakang puncak Gauri Shankar, Shisa Pangma di Tibet dan puncak-puncak lainnya. (Photo: Tjahjadi Nurtantio)

Perjalanan melalui Pass Tashi Laptsa hanya dianjurkan bagi para pendaki yang berpengalaman dengan kondisi fisik sempurna. Tanpa pengalaman sebaiknya hanya berkunjung sampai danau glacier Tso Rolpa. Rute Rolwaling dapat juga dikombinasi dengan rute "Numbur" di Selatan.

Satu bukti keseriusan trek ini adalah keharusan untuk memiliki "climbing permit". Dibanding dengan Rolwaling Trek, Everest Base Camp Trek secara teknis tergolong trek yang mudah.

Trekking biasanya bermula di Dolakha atau Barabise, dengan minibus sekitar 5-6 jam perjalanan dari Kathmandu. Trek sampai Lukla antara 16-21 hari. Tergantung apakah hendak mendaki puncak gunung atau tidak, dan berapa banyak waktu di camps (istirahat pada ketinggian tertentu sangat penting untuk adaptasi dan mencegah ‚altitude sickness‘). Selama musim kunjungan utama, setiap hari ada beberapa penerbangan dari Lukla kembali ke Kathmandu.

Puncak (trekking peaks) yang dapat didaki misalnya: Yalung Ri (5630m), Ramdung Go (5930m), Parchamo (6273m). Es / salju 40-45°, Grade: PD- (peu difficile minus).

Musim terbaik adalah setelah musim hujan (Oktober-November) dimana cuaca biasanya lebih stabil dan udara cerah - pemandangan tanpa kabut. Di musim semi (Maret-Mei) suhu lebih tinggi, tetapi seringkali berawan dan kita harus siap menghadapi resiko sisa salju musim dingin yang akan mempersulit perjalanan. Pada musim apa pun, salju adalah faktor yang selalu dapat sangat menentukan pada perjalanan di ketinggian seperti ini.

Perlengkapan mendaki gunung sebaiknya yang telah teruji fungsinya pada kondisi kritis dan dibawa sendiri, tetapi bisa juga dibeli atau disewa di Kathmandu. Suhu malam hari di atas 5000 m dapat mencapai -20°c (diperlukan ‚sleeping bag‘ dan pakaian yang sesuai). Demikian pula guide dan crew berpengalaman dapat dicari melalui agen-agen trekking setempat
Iquique, Wisata Seberang Gurun

Laporan Wayan Manuh/ Reporter Era Baru Sabtu, 06 Februari 2010

gurunikiki

Gurun Atacama terlihat jelas di belakang Kota Ikiki.(foto : Wayan Manuh)

Iquique (di baca ‘ikike’) adalah sebuah kota kecil di utara negara Chili, Amerika Selatan. Iquique merupakan ibu kota dari wilayah Tarapaca yang berada di pesisir laut pasifik di bagian barat dari gurun Atacama.

Gurun Atacama menjadi latar belakang dari kota pelabuhan kecil ini. Gurun yang sangat kontras dengan perbukitan gurun beberapa kilometer di belakang kota ini.

Gurun Atacama sendiri menurut literatur merupakan gurun tertandus didunia. Gurun ini melintasi wilayah sepanjang 1000 km disepanjang pesisir laut pasifik dan di sebelah barat gunung Andes dan berada di utara Chili. Gurun ini diperkirakan tidak pernah mendapat hujan selama jutaan tahun.

Penulis dalam perjalanan panjang keliling Amerika latin dan ke Antartika singgah di kota yang berpenduduk 216,419 ( sensus 2002). Seperti negara-negara Amerika latin lainnya, bahasa yang di pakai adalah bahasa Spanyol.

Kota ini tidak jauh dari pelabuhan laut dimana kapal pesiar bersandar, hanya tiga kilometer. Keunikan kota ini adalah suasananya yang ramah serta jalan yang kecil di alun-alun tidak begitu ramai. Tetapi keteraturan ini bukan tidak dirancang.

Setelah penulis menuruni tangga di alun-alun ternyata adalah sebuah parkir mobil yang luas. Walaupun tidak ada buku panduan tentang kota ini, penulis mencoba untuk menemui seorang staff di bagian informasi wisata, mereka tidak memiliki informasi selain bahasa Spanyol. Walau demikian perjalanan menelusuri kota mini ini cukup menarik.

Iquique kelihatan bergeliat di siang hari yang bersuku 21°C saat itu. Restoran pertokoan dan warung-warung berbentuk memanjang yang menjual aneka pakaian dan cendra mata semua tersedia.

Kota ini merupakan kota bekas pertambangan tembaga dan sekarang masih tertinggal bukti sejarahnya. Salah satunya adalah Tugu Jam victoria yang berada di alun-alun kota. Jam besar ini berada di keempat sisi dari tugu dan diatasnya berkibar bendera negara Chili.

Perikanan adalah industri utama dari Iquique, sepanjang perjalanan dari pelabuhan kita bisa melihat jaring-jaring besar yang digunakan oleh kapal-kapal pukat.

kotaikiki

Suasana Kota Iqique.(foto Wayan Manuh)

Daerah ini menarik para turis dari negara tetangganya Peru dan Paraguay untuk melakukan wisata. Sebab Iquique memiliki pusat belanja bebas pajak terbesar di Amerika Latin.

Daerah pantainya yang sebagian besar bebatuan namun demikian di daerah pesisir berdiri beberapa hotel dan apartemen. Sehingga kota ini mendapat julukan “Miami of Chile” (Miaminya Chili), dimana kegiatan olahraga air seperti surfing dan parasailing digemari wisatawan dan warga lokal.

Karena semakin berkurang dan habisnya persediaan sumber tambang tembaga dan mineral, daerah pertambangan yang dulunya menciptakan kota-kota kecil ditutup dan terlantar.

Kemudian, tempat-tempat ini di jadikan obyek wisata untuk para wisatawan yang datang kemari. Obyek wisata yang ditawarkan atara lain mengunjungi kota hantu Humberstone yang pengoperasian pertambangannya berhenti tahun 1960an. Di sepanjang perjalanan, Wisatawan dijanjikan akan menikmati pemandangan yang menarik aboriginal art atau kesenian penduduk asli dalam skala besar.